“Pameran 1000 Foto” Tercatat di MURI



Sinar Harapan,  22 Februari 2007

JAKARTA-Sebuah tonggak sejarah dalam dunia fotografi Indonesia tercipta saat sebanyak 1.111 foto hasil karya para fotografer amatiran maupun profesional terpajang di ratusan panel di Museum Bank Mandiri. Seribuan foto itu terpajang dengan tajuk ”Pameran 1000 Foto” yang berlangsung selama satu bulan, 16 Januari-18 Februari 2007.

Tonggak itu semakin berdiri tegak saat Museum Rekor Indonesia menyatakan bahwa pameran ini sah memegang dua rekor, yaitu sebagai pameran dengan foto terbanyak 1.111 foto dan pameran dengan jumlah fotografer terbanyak 235 fotografer.

Fotografi di Indonesia, dan mungkin di dunia, memang berkembang sangat pesat. Perkembangan inilah yang ditangkap para penyelenggara pameran yang hanya tergabung dalam sebuah kepanitiaan, tanpa berlindung dalam lingkup sebuah komunitas atau sebuah perkumpulan fotografi.

Sebelum pameran ini, barangkali banyak komunitas yang masih ragu apakah bisa mengumpulkan lebih dari 500 foto untuk sebuah pameran. Asumsi ini terbukti dengan belum pernah ada pameran yang memajang fotonya sebesar itu. Memang ada Salon Foto Indonesia yang secara rutin mengadakan lomba dan memamerkan foto-foto pemenang. Namun, dalam catatan MURI, Salon Foto Indonesia tidak termasuk ke dalam kriteria pameran.
Dari segi jumlah, penyelenggara ”Pameran 1000 Foto” malah membuat lompatan yang cukup besar dari segi jumlah. Jaya Suprana sebagai wakil MURI saat akan menyerahkan plakat rekor kepada Ketua Panitia Arif Wicaksono, Minggu (18/2), sempat mengatakan, ”Sebenarnya ada beberapa pameran foto yang juga menyajikan foto-foto yang cukup banyak, namun penyelenggaranya suka menaruh foto-foto yang belum layak untuk dipamerkan, seperti pas foto misalnya. Sementara itu, ”Pameran 1000 Foto” benar-benar menyajikan foto-foto yang sangat layak dipamerkan.”

Namun, Jaya Suprana juga mengingatkan, ”Penyelenggara pameran harus bersiap-siap. Rasa-rasanya sebentar lagi rekor Anda akan terpecahkan, sebelumnya sudah ada kepanitiaan yang juga mengundang MURI untuk mencatatkan ribuan foto mereka yang dipamerkan.”

Pameran yang dibuka pada tanggal 16 Januari itu telah resmi ditutup pada tanggal 18 Februari. Penutupan pameran juga ditandai dengan sebuah kegiatan yang khas bagi para fotografer yang sedang berkumpul, yaitu berburu foto. Perburuan foto diadakan di wilayah Kota Tua, Jakarta. Tak lupa, seorang special talent Syaharani yang seorang penyanyi jazz dihadirkan untuk meramaikan acara.

Setelah itu barulah seremoni penutupan diadakan dengan band ingar-bingar yang dibawakan oleh Try Band. Sajian ini sekadar melepas lelah sebelum mencapai acara puncak penyerahan plakat MURI.

Peran Teknologi

Untuk mengumpulkan seribuan foto, teknologi memang berperan penting, dalam hal ini teknologi informasi. Internet menjadi jembatan yang nyaris tak mengenal batas lokasi dan usia. Lewat media inilah penyelenggara pameran berhasil menjaring sekitar 6.000-an foto dari berbagai daerah di Indonesia. Para fotografer Indonesia yang berdomisili di luar negeri pun ikut berpartisipasi, seperti dari Jepang dan Australia.
Pameran ini pun tak mengenal batas usia maupun tingkat keahlian. Dari segi usia, ada Alvin asal Sorowako yang baru berusia 11 tahun sebagai peserta termuda, dan ada Hendro Darmawan sebagai peserta dengan usia tertua, 70 tahun.

Secara tingkat keahlian, di sini telah terjadi sebuah titik temu antara para fotografer profesional seperti Arbain Rambey, Darwis Triadi, dan Aryono Huboyo Djati, dengan nama-nama yang sangat tidak dikenal dalam kancah fotografi Indonesia. Pameran ini menjadi salah satu titik lebur antara tingkat keahlian yang berbeda-beda itu.

MURI tentu mencatat rekor dari segi jumlah, baik jumlah fotografer maupun jumlah foto yang terpajang. Lembaga ini jelas tidak berkompeten untuk mencatat mutu foto yang disajikan pada acara ini. Namun, Jaya Suprana dengan tegas meyakinkan bahwa foto-foto ini sangat layak dipamerkan.

Saat ini, melihat antusiasme pengunjung pameran, penyelenggara pameran memang sedang memikirkan untuk mengadakan pameran foto ini secara berkala, tentu dengan peningkatan kualitas. “Kita akan usahakan ya untuk mengadakan pameran ini setiap tahunnya, walaupun itu jelas membutuhkan kerja keras dari teman-teman yang rata-rata adalah orang-orang kantoran,” kata Ketua Panitia Arif Wicaksono.

Apakah penyelenggaraan berikutnya untuk mengejar kuantitas agar tercatat kembali di rekor MURI, rasanya ini harus menjadi hal kedua. Penyelenggara sebaiknya berusaha menjadikan pameran ini sebagai barometer perkembangan fotografi Indonesia, daripada sekadar mengejar kuantitas. (job palar)

Leave a reply

  • Find Us @ Facebook
  • Chat with Me

Most Commented

Flickr

Arsip